ketika Subsidi menjadi Komoditi

Antrean yang mengular panjang kendaraan berbahan bakar solar di SPBU di provinsi Kalteng adalah pemandangan wajar sehari-hari. Justru adalah hal yang sangat langka dan luar biasa apabila tidak terjadi antrean panjang. Antrean yang didominasi truck tersebut sudah dalam tahap meresahkan dan menjengkelkan pengguna jalan dan penduduk di sekitar SPBU tersebut berada. Apalagi tingkah laku sopir pengantri itu jauh dari kata tertib, selalu serakah dan seenaknya sendiri: tidak peduli dengan sekitarnya, tidak peduli pengendara lain atau toko-toko/warung makan yang tertutup antrean menjadi terganggu.

Sebenarnya semua orang juga tahu, biang keladi dari hal tersebut adalah selisih yang jauh antara harga solar industri (tidak bersubsidi) dengan solar bersubsidi. Harga solar bersubsidi saat ini adalah Rp. 4500 per liter sedangkan harga solar industri sekitar Rp. 8000-an per liter. Selisih harga sebesar ini tentu saja menjadi peluang bisnis yang menggiurkan bagi orang-orang yang kreatif.. 🙂

Katakanlah dia membeli solar tersebut Rp. 5000 per liter (karena ada ‘bea ongkos produksi’ lain yang tak terhindarkan) dan menjual solar tersebut ke pihak lain yang memerlukan seharga Rp. 8000 per liter maka dia memperoleh laba sebesar Rp. 3000 per liter. Misalnya dalam satu hari dia bisa memperoleh solar sebanyak 100 liter (bisa lebih kalau rajin dan ulet mengantre ke banyak SPBU) maka dalam sehari dia akan memperoleh Rp. 300.000 dan sebulan Rp. 9000.000,- hanya dengan modal mengantre (dan merugikan + menjengkelkan banyak orang).

Selama selisih harga solar subsidi dan industri yang jauh dan beberapa orang pemangku kebijaksanaan yang diuntungkan dari praktik itu tetap tutup mata maka jangan harap masyarakat sekitar SPBU dan pengguna umum mobil diesel dapat tenang..

Iklan