Tertib itu Indah

Jalan raya adalah utilitas milik umum dimana setiap orang berhak menggunakannya dengan bebas. Namun demikian tentu saja kebebasan itu dibatasi oleh peraturan-peraturan yang semula dirancang demi kenyamanan dan kemanan semua pengguna jalan, baik itu pengguna pejalan kaki, pemakai sepeda pancal, pengguna kendaraan bermotor, maupun penyeberang jalan. Tentu saja sejumlah peraturan yang sebenarnya sudah sangat baik tidak akan berfungsi dengan benar apabila implementasi di lapangan tidak sesuai. Sebagai contoh, seringkali para pelanggar lalu lintas yang sempat ditilang oleh polisi kemudian dilepaskan begitu saja dengan imbalan 20 ribu rupiah. Hal ini tentu tidak akan menimbulkan efek jera bagi para pelanggar lalu lintas.

Hal lain yang jauh lebih penting adalah minimnya kesadaran pengguna jalan raya akan peraturan perundangan lalu lintas dan etika di jalan. Hal ini saya buktikan sendiri ketika membuat SIM di kepolisian. Dari puluhan pemohon SIM pada saat test tertulis hanya beberapa gelintir saja yang lulus, belum lagi pada saat test praktik-nya. Akhirnya para pemohon SIM ini dengan berbagai macam cara mengupayakan bagaimana bisa mendapatkan SIM, bahkan bila perlu tidak perlu harus ikut ujian. Dari sinilah akhirnya calo-calo marak bermunculan, masing-masing pihak dapat untung.. :”>

Sebagai moda transportasi yang paling beresiko (bagi penggunanya sendiri maupun orang lain), kendaraan bermotor seharusnya dikendarai oleh orang-orang yang benar-benar dinyatakan kompeten (sebagai bukti mempunyai SIM). Namun kompeten secara teknis belum lah cukup, tapi juga harus dibekali dengan pemahaman etika di jalan raya. Dengan skill yang baik dan memahami etika berlalu-lintas yang baik insyaAllah aktivitas di jalan raya menjadi lebih menyenangkan dan tertib, semoga..

Hal ini beberapa hal yang sering saya temui di jalan raya:

  • menerobos lampu merah.
  • Anak-anak sekolah yang dari usianya belum berhak dengan seenaknya memenuhi jalan dengan sepeda motor (orang tua) nya, seringkali dengan ugal-ugalan.
  • melanggar rambu larangan (dilarang berhenti, parkir, belok kiri ikuti lampu, dll).
  • belok kiri/kanan atau jalan lurus di perempatan jalan tanpa memberi tanda lampu riting.
  • lampu belakang sepeda motor berwarna putih.
  • lampu depan terlalu menyilaukan.
  • pengemudi mobil menyalakan tetap lampu jauh walaupun sudah di-dim/diberi peringatan.
  • mendahului tanpa memberi isyarat terlebih dulu.
  • menyerobot lajur jalan.
  • sepeda motor yang bunyinya meraung-raung (semakin keras dan mengagetkan orang lain) semakin bangga pula pengendaranya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s