Catatan perjalanan 22 September 2010..

Seperti halnya telah sering dibicarakan orang, sial itu datangnya seringkali berurutan.. Namun, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita pasti ada hikmah di dalamnya, bahkan dari serangkaian kesialan tersebut. Mungkin kesialan yang menimpa diri kita tersebut berupa teguran dari Yang Maha Kuasa pada diri kita karena kita sebelumnya telah berbuat sesuatu yang kurang tepat atau telah melenceng dari tatanan yang telah ditetapkan-Nya. Itulah salah satu hikmah yang dapat kita petik..

Pada minggu ke-4 bulan September 2010 ini saya diperintahkan untuk menjalankan tugas kedinasan di Kantor Induk Banjarbaru Kalimantan Selatan. Perintahnya mendadak, yaitu menjelang hari siang dan arena acara yang harus dihadiri adalah di waktu pagi pada keesokan harinya maka mau ga mau saya harus berangkat hari itu juga.

Jarak Palangkaraya – Banjarmasin sekitar 192 km (menurut Patok Jarak dari Dinas PU), disambung Banjarmasin – Banjarbaru sekitar 35 km sehingga total jarak yang harus ditempuh menjadi 227 km. Umumnya perjalanan  Palangkaraya – Banjarmasin dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam, dan Banjarmasin – Banjarbaru sekitar setengah jam. Biasanya saya lebih suka menggunakan mobil pribadi kesayangan (Suzuki Katana 2000) saya daripada menggunakan travel  (umumnya Toyota Innova) ataupun kendaraan dinas (Toyota Hilux). Dengan menggunakan kendaraan pribadi maka mobilitas di Banjarmasin dan Banjarbaru menjadi lebih mudah mengingat biasanya ada saja tempat/teman yang dikunjungi apabila kebetulan harus ke Banjarmasin/Banjarbaru.

Akhirnya sekitar pukul 16.00 WIB saya meluncur meninggalkan kota Palangkaraya menggunakan Katana kesayangan. Dari arah kota Palangkaraya kondisi jalan raya cukup bagus dan mulus, cuman harus diperhatikan 2 buah tikungan sangat tajam di daerah Bereng Bengkel (masih masuk wilayah Palangkaraya). Tikungan tersebut rawan terjadi kecelakaan, pengendara harus ekstra waspada di kawasan tersebut. Melewati tugu perbatasan wilayah Palangkaraya jalanan menjadi lebih bergelombang dan beberapa lubang menghiasi jalan. Untuk mobil Suzuki Katana yang suspensinya terkenal keras maka kalau sayang mobil maka harus berhati-hati benar dengan lubang jalanan ini.. 🙂 Sekitar 45 menit perjalanan (tepatnya di ruas jalan Bereng Bengkel KM 35) maka kita akan memasuki jalan layang Tumbang Nusa yang panjannya mencapai 7,1 km ! Dulu sebelum dibangunnya jalan layang ini, kawasan ini merupakan daerah rawan banjir. 

(pu.go.id)

Dibangun mulai tahun 2000 dan selesai pada tahun 2006, jalan ini merupakan salah satu prestasi besar pemerintah provinsi Kalimantan Tengah.

Selepas melewati jalan layang ini kita akan melewati beberapa ruas jalan yang aspalnya terkelupas sehingga perjalanan menjadi kurang nyaman. Sekitar 1 jam kemudian kita akan sampai di tempat peristirahatan di daerah Barabai Pulang Pisau. Ada beberapa rumah makan yang menyediakan mushola dan toilet, seperti RM Candi Laras atau RM Pamangkih. Kalau cuman untuk istirahat dan shalat saya lebih suka singgah di mushala Polres Pulang Pisau yang letaknya tidak jauh dari tempat peristirahatan tadi. Kadang saya singgah untuk istirahat kadang juga tidak dan langsung meluncur ke Banjarmasin, tapi kali ini saya singgah di mushala Polres Pulang Pisau untuk menunaikan shalat maghrib-isya (di-jamak). Selepas shalat perjalanan langsung dilanjutkan dan disambut dengan guyuran hujan lebat. Sekitar pukul 19 WIB memasuki kota Kapuas dan kali ini sengaja lewat dalam kota karena ingin singgah makan di RM Pekalongan (masakan kambing). Namun sayangnya warung tutup, entah sudah habis atau memang masih libur lebaran. Terpaksa makan dialihkan ke RM Padang di Jl. Pemuda, masakannya kurang mantap, lebih enak masakan padang yang di tengah kota.

Perjalanan dilanjutkan, dan sekitar pukul 21  WIB (22 WITA waktu Kalimantan Selatan) memasuki kota Banjarbaru. Berhubung hotel langganan sedang penuh (Qorina) terpaksa mutar-mutar dulu cari hotel yang kosong. Akhirnya diputuskan menginap di sekitar kawasan Landasan Ulin dengan pertimbangan kemudahan mobilitas. Baru satu kali menginap di hotel tersebut, dan menurut bincang-bincang dengan salah satu karyawan hotel dapat saya simpulkan bahwa hotel tersebut menjadi tempat check in pasangan mesum yang ingin menuntaskan hasrat, katanya kalau malam minggu hotel pasti penuh. Malam itu kebetulan sepi, saya lihat hanya ada 2 buah mobil tamu parkir. Kamar hotel biasa-biasa aja, kalau cuman untuk istirahat dan mandi aja cukup lah. Mungkin berawal dari menginap di hotel inilah maka serangkaian kesialan datang pada keesokan harinya..

Keesokan paginya, seperti biasanya apabila melakukan perjalanan jarak jauh saya memeriksa kondisi mobil. Tentu kotor dan berdebu, dan ternyata ban depan sebelah kanan kempes. Saya lihat-lihat ternyata ada sekrup kecil yang menancap di ban dan inilah yang membuat kempes. Ga masalah, toh ada ban cadangan. Ban lama dilepas, ban cadangan diambil  dan siap dipasang. Ternyata setelah diperiksa ban cadangan juga kempes..! ini kesialan PERTAMA.

Menuju tempat acara harus pelan-pelan sekali sambil mencari tukang tambal ban, ada beberapa yang sudah buka tapi umumnya tambal ban sepeda motor. Akhirnya di Jl Ahmad Yani KM 29 ketemu tambal ban yang sudah buka. Untuk mengejar biar tidak terlambat mengikuti acara maka mobil terpaksa ditinggal di bengkel.

Acara berlangsung dengan lancar, ada beberapa hal yang membuat saya merasa excited.. Walaupun mungkin ada beberapa pihak yang merasa kurang puas, secara umum saya merasa puas dengan kepemimpinan beliau. Beberapa kali beliau sidak di tempat saya dan saya mendapat kesan yang bagus dan manfaat dari sidak beliau. Dari 2 pemimpin sebelumnya yang saya rasakan, saya rasa sementara ini beliaulah yang terbaik..

Kemudian yang kedua adalah mc acara tersebut. Pada pertengahan acara baru menyadari kalau yang menjadi mc salah satunya adalah adik angkat saya.. Soalnya nampak berbeda dengan kesehariannya, pakai pakaian bak pengantin lagi hehe.. so cute n beatiful, my sis.. 🙂

Lalu yang terakhir adalah selingan pertunjukan kesenian dayak dan banjar, sangat sangat bagus dan menghibur..! Selama ini saya menganggap kesenian daerah adalah sesuatu yang membosankan.

(urangwayau.blogdetik.com)

Tapi setelah melihat semuanya kemarin pandangan saya langsung berubah, rasanya saya semakin betah menjadi warga Kalimantan Selatan dan Tengah..

Ditengah acara yang berlangsung saya sempat mengambil mobil yang diantarkan oleh orang bengkel, juga sempat mengurus administrasi BPKB di kantor SAMSAT Banjarbaru. Mungkin karena begitu terburu-buru makanya pas mau memutar jalan di depan SD Banjarbaru Utara bumper samping kanan mobil menggores batang besi pembatas jalan. Untung hanya bumper besi aja yang tergores, bukan bodi mobil. Walaupun begitu hal ini saya anggap sebagai kesialan yang KEDUA.

Selepas acara ramah tamah dan shalat dhuhur di masjid PLN saya langsung meluncur ke rumah di Balitan yang dikontrakkan ke mahasiswa karena barusan ditelpon sama bapak RT ada hal penting yang akan dibicarakan menyangkut urusan lingkungan perumahan. Sebelumnya akan mengisi bensin di pom bensin dulu, nah saat sampai di pertigaan samping rumah dinas walikota Banjarbaru tiba-tiba mobil mogok kehabisan bahan bakar..! Karena Suzuki Katana masih menggunakan sistem karburator manual maka walaupun tangki bensin sudah diisi,  mesin tidak bisa langsung dihidupkan tanpa dipancing terlebih dulu. Dengan bantuan tukang ojeg yang mangkal tidak jauh dari situ maka akhirnya mesin hidup, inilah kesialan yang KETIGA. Setelah menyelesaikan urusan dengan pak RT saya langsung meluncur ke Banjarmasin untuk mencari flow meter bahan bakar karena ada masalah penghitungan volume bahan bakar di tempat saya.

Singkat kata setelah menyelesaikan segera urusan di Banjarmasin dan mencari oleh-oleh untuk anak-anak di Duta Mall akhirnya langsung meluncur pulang ke Palangkaraya. Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak ada kendala apa-apa, sudah berakhir rangkaian kesialan yang datang beruntun hari itu.. 🙂 sampai di rumah sudah pukul 23.30 WIB, capai dan penat tentu saja, namun perjalanan kali ini cukup membawa kesan. Dengan segala rangkaian kesialan yang menimpa namun juga menemui beberapa hal yang membuat excited saya rasa cukup adil bila saya memberi skor 2:1 untuk kemenangan MENYENANGKAN versus MENYEDIHKAN..

(to be continued)

Iklan

detikcom : Ini Dia Ciri Pengguna Facebook yang Narsis

Ini Dia Ciri Pengguna Facebook yang Narsis


Facebook memang tempat mengasyikkan untuk berbagi cerita dan konten. Sebagian pengguna jejaring sosial ini malah merasa perlu sering-sering meng-update status mereka agar ‘eksis’. Anda termasuk pengguna yang seperti itu?

Jika iya, ini tandanya Anda menjelma sebagai orang yang narsis. Sebab, berdasarkan sebuah studi yang dilakukan Soraya Mehdizadeh, peneliti dari York University, Kanada, pengguna yang terus menerus meng-update Facebook cenderung menjadi narsis.

Studi ini juga menemukan, Facebook adalah surga pertemanan bagi orang-orang narsis karena mereka bisa berteman dengan sebanyak mungkin orang tanpa harus menjalin pertemanan yang sesungguhnya.

Dikatakan Mehdizadeh, bagi orang-orang narsis, Facebook sangat membantu mereka mengontrol bagaimana mereka dilihat teman atau orang-orang yang mereka inginkan.

Dalam studinya, Mehdizadeh menyurvei 100 partisipan berusia 18 hingga 25 tahun soal penggunaan Facebook. Setelah itu, mereka diberi tes psikologi guna menentukan seberapa besar mereka mencari perhatian orang-orang dan menganggap dirinya penting.

Hasilnya, terdapat hubungan positif antara tingkat kenarsisan yang teridentifikasi melalui hasil tes, dengan seberapa sering partisipan mengecek akun Facebook mereka. Demikian keterangan yang dikutip detikINET dari Telegraph, Rabu (15/9/2010).

Studi Mehdizadeh yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology ini juga menemukan bahwa partisipan pria lebih suka membuat postingan berupa tulisan pada profil mereka. Sementara wanita cenderung senang mem-posting foto untuk menambah nilai cerita pada update mereka.

(Sumber: Rachmatunisa – detikinet)

Catt: bukan bermaksud sirik terhadap pengguna facebook, no offense yah,, 🙂


lupa..

Dari sekian banyak jenis “lupa”, betapa lupa jenis ini adalah salah satu sifat manusia yang sering timbul. Memang pada dasarnya manusia selalu menginginkan dalam kondisi yang ‘nyaman‘ dan sebisa mungkin menghindari ‘ketidaknyamanan’, salah satunya ya dengan ‘melupakan‘. Dalam kasus ini kita seringkali lupa pada saat hidup ‘susah’ dan mungkin pada saat hidup susah itu kita masih rajin ibadah, peduli kepada sesama, tahu diri, dll. Nah, pada saat kehidupan menjadi ‘enak‘ perlahan-lahan kita menjadi malas ibadah, ga peduli dengan orang lain, sombong, dll. Mungkin, di pikiran bawah sadar kita tertanam bahwa hidup susah itu tidak enak makanya pada saat kehidupan berubah menjadi makmur maka pikiran bawah sadar kita membimbing kita untuk melupakan emosi-emosi yang kita lakukan saat kita masih dalam kondisi susah seperti di atas.

Seringkali kita temui saudara, sahabat, kenalan, orang lain yang berubah sifatnya saat kehidupannya terangkat, yaitu seringkali lupa pada saat kehidupannya masih prihatin. Bahkan seringkali melupakan saudara/sahabat/orang lain yang sedikit banyak membantunya pada masa lampau sehingga kehidupannya dapat terangkat seperti sekarang ini. Para tetua kaum Melayu dan Jawa yang bijak merangkumkannya dalam pepatah:

” bak kacang lupa pada kulitnya”

“kacang lali karo lanjarane”

yang semuanya mempunyai makna yang sama.

Mungkin pada momen lebaran Idhul fitri 1431 H kemarin ini dimana umumnya orang-orang perantauan mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahmi (sekalian pamer bagi yang sudah sukses..) kita akan menemui beberapa orang seperti di atas. Bahkan tidak menutup kemungkinan, salah satu dari mereka adalah sudara kita. Diperlukan hati besar bila menemui kondisi seperti ini bila tidak mau sakit hati. Ya sudahlah, segala sesuatunya akhirnya akan kembali ke asalnya. Kita tidak usah pusing memikirkan orang lain,, 🙂

Anyway, Selamat Idhul Fitri 431 H, Taqobalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal Faidzin..