jangan bersikap terlalu baik: benar demikian??

Ada salah seorang teman yang pernah bilang kepada saya bahwa berbuat terlalu baik kepada orang itu malah tidak baik. Sebenarnya saya kurang sependapat dengan ucapan teman tadi, namun berhubung yang mengucapkannya adalah orang yang sudah tua saya tidak berani mendebatnya secara terbuka. Menurut saya, berbuat baik adalah amal kebajikan dan sekecil apapun kebaikan tadi pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bahkan ajaran Tuhan menganjurkan kepada kita untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, jadi berbuat baik kenapa harus dibatasi?? Tapi, yang namanya ‘terlalu’ memang keliatannya tidak baik:terlalu besar, terlalu kecil, terlalu berani, terlalu takut, terlalu banyak, dll.Yang paling baik adalah menempatkan segala sesuatu ditengah-tengahnya secara proporsional. Apakah ‘berbuat terlalu baik’ termasuk dalam kategori ini?? Let me see.. Hari minggu, 25 Oktober 2009 mestinya adalah hari yang biasa-biasa saja bagi saya, seperti hari-hari minggu yang lain. Yang sedikit istimewa adalah mungkin karena hari itu adalah saat-saat terakhir dengan teman-teman peserta diklat Executive Education IV Angkatan 3. Setelah 2 minggu penuh selalu bersama-sama dalam suka dan duka menjalani diklat, mulai saat tidak saling mengenal sama sekali sampai menjadi teman baru yang akrab, akhirnya harus diakhiri hari itu. Beruntung banyak foto kenangan selama 2 minggu itu, seperti berikut ini: dg GM

Sudah sewajarnya saya harus berbuat baik kepada teman-teman dengan mengantarkan teman-teman dari Wilayah Kaltim ke Bandara. Meskipun tidak diminta pasti saya akan menawarkan  jasa, apalagi memang teman-teman tersebut minta tolong untuk diantarkan. Akhirnya gelombang pertama saya antar pada pukul 07.30 dan pukul 10.45 gelombang kedua menyusul, meskipun akhirnya mobil Udiklat bisa datang namun karena gelombang kedua ini terdiri dari 6 orang dengan barang bawaan yang banyak , maka mau tidak mau harus ada mobil ke-2 yang membantu. Akhirnya setelah semua selesai akhirnya saya langsung meluncur ke Palangkaraya, pulang ke rumah.. Di tengah jalan, di daerah Pulang Pisau, terlihat ada rombongan keluarga yang melambai-lambaikan tangan tanda menyetop kendaraan yang saya bawa. Berhubung dalam kecepatan yang tinggi (untuk ukuran mobil Katana, 100 km/jam termasuk ngebut,hehe..) maka mobil baru dapat saya hentikan beberapa puluh meter di depan orang-orang tadi. Setelah mundur ke belakang saya tanyai maksud menyetop mobil saya, dijawab bahwa mereka (ternyata 2 orang bapak-bapak saja yang akan berangkat) bermaksud pergi ke Palangkaraya dan ingin menumpang. Dengan niat baik saya tawarkan ikut (gratis tentunya..!), namun bapak yang satu setelah melihat mobil saya bilang pada temannya yang sedang berbicara dengan saya tadi begini: “ga jadi”. Never mind, walau dengan hati agak mendongkol saya langsung tancap gas tinggalkan orang-orang ‘tidak mau diuntung’ tadi, hehe.. Mobil saya memang jelek, kurang nyaman untuk perjalanan jarak jauh (terutama untuk penumpang di jok belakang). Namun sudah tahu begitu masih menyetop juga, dan setelah cape-cape disamperin ternyata tidak jadi. Rugi waktu, bensin dan kampas rem..but, never mind.. 🙂

Perjalanan kembali dilanjutkan dalam kecepatan tinggi (sekali lagi untuk ukuran Katana), ditambah pikiran sedikit buncah akibat mamahnya anak-anak sejak pagi-pagi dah ngambek plus dongkol tadi maka mobil dipacu mpe ngos-ngosan. Kira-kira 6 km menjelang pom bensin Pulang Pisau saya melihat ada seorang ibu yang memakai helm berjalan menyusuri jalan, nampaknya beliau awalnya berboncengan sepeda motor dan motornya kempes ban. Karena kasian melihat ibu yang nampak kecapean tersebut maka saya langsung balik kanan nyamperin ibu tadi. Saya tanya apa yang terjadi dan mau kemana , dijawab dari Banjarmasin boncengan dengan anaknya mau ke Pulang Pisau njenguk cucunya yang bekerja di Kejaksaan Pulang Pisau, namun di tengah jalan ban bocor dan anaknya berjalan duluan pelan-pelan mencari tukang tambal ban. Saya ajak ibu tadi ikut menumpang sambil melihat-lihat di tengah jalan kalau-kalau ketemu anaknya yang mencari tukang tambal ban. Benar saja, setelah berjalan sekitar 3 km ketemu anaknya yang sedang nongkrong di bengkel kecil. Saya tawarkan kepada ibu tadi, mau turun ikut anaknya menunggu tambalan ban atau tetap ikut saya dan turun di Pulang Pisau. Ibu tadi pilih tetap ikut sambil minta diturunkan di warung makan dekat Kantor Kejaksaan karena cucunya akan menjemput di situ. Keliatannya mudah, tapi ternyta jauh lebih susah..! Ternyata ibu tadi ga tau dimana letaknya Kantor Kejaksaan, apalagi warung makan tempat penjemputan. Setelah muter-muter lama akhirnya ketemu (sempat salah informasi antara kantor kejaksaan lama dan baru).. Dongkol, tp ya sudahlah.. sudah diniati memang mau menolong..

Setelah sempat isi bensin 5 liter di pinggir jalan (abis untuk muter-muter tadi) akhirnya nyampe di kota Cantik Palangkaraya.. 🙂  Di jalan Tjilik Riwut pal 2 mobil saya belokkan ke bengkel untuk beli oli, tp ternyata bengkelnya sudah tutup. Belum sempat menghidupkan mesin tiba-tiba mobil Mitsubishi Strada di depan tiba-tiba langsung mundur tanpa melihat spion langsung menghajar bumper depan sisi kanan sampe penyok.. 😦  Walau badannya kecil bukan berarti saya penakut, langsung saya suruh turun sopir Strada tadi untuk mempertanggungjawabkan ketololannya. Setelah kata sepakat putus, Katana langsung dibawa ke bengkel ketok magic untuk dibetulin penyoknya laludi deko.. Pulang ke rumah diantar bapak sopir Strada tadi..

Ujian kesabaran ternyata belum selesai.. Setelah dicari-cari ternyata kunci rumah ga ketemu! Bapak Satpam yang sedang bertugas juga ikut pusing carikan kunci cadangan namun ternyata memang ga ada cadangannya. Akhirnya baru ingat mungkin kunci tertinggal di dashboard mobil dan setelah dicari ke bengkel ternyata memang ada.. Alhamdulillah, akhirnya walau sangat terlambat akhirnya bisa masuk rumah..

So, setelah dipikir-pikir ucapan teman saya tadi ternyata ada betulnya juga: “Jangan berbuat terlalu baik, karena itu malah tidak baik..”  Dalam kasus saya tadi:

1. Perbuatan baik:

  1. Mengantar teman ke bandara
  2. Nyamperin rombongan bapak-bapak
  3. Nganter seorang ibu ke Pulang Pisau

2. Implikasi:

  1. Jadwal kepulangan ke Palangkaraya molor
  2. Harus beli bensin eceran di pinggir jalan yang rawan oplosan

3. Dampak Langsung

  1. Bumper sisi kanan penyok ditabrak Strada (kalau pulangnya tidak molor mungkin kejadian ini tidak akan terjadi)
  2. Pusing cari kunci rumah (kalau mobil tidak di bengkel tentu tidak sampai pusing cari kunci)
  3. Rencana beli oleh-oleh untuk staf di PLTD tertunda.

Yah, kl dilihat seperti di atas memang benar ucapan teman saya tadi. Namun saya tetap akan berusaha untuk berbuat baik kepada orang-orang, sesuai kemampuan dan kemauan saya. Walaupun mungkin kadang-kadang akan merugikan kita, namun saya tetap yakin bahwa perbuatan baik yang telah kita lakukan kelak akan kembali ke kita, entah ke kita langsung atapun ke anak keturunan kita, demikian pula sebaliknya.. Wallahu alam..