Sampit: sebuah catatan perjalanan

Begitu pertama kali mendengar kata Sampit pasti yang terbayang di pikiran kebanyakan orang adalah sebuah peristiwa kelam kerusuhan rasial yang berkobar pada awal tahun 2000-an. Begitu banyak darah yang tertumpah dan begitu banyak nyawa yang tercabut, sebagian adalah wanita dan anak-anak, demi alasan perbedaan suku dan asal-usul keturunan. Buku kuduk masih terasa berdiri apabila mengingat foto-foto hasil kerusuhan yang tersebar di internet. Saya tidak mampu membayangkan apabila istri atau kedua anak saya yang menjadi salah satu korban di antaranya. Apa pun akar penyebab kerusuhan tersebut atau siapa yang bersalah di dalamnya, saya mengutuk keras pembantaian terhadap wanita dan anak-anak yang tidak berdosa. Apakah semuanya itu harus diselesaikan dengan kekerasan dan pembantaian? Toh, kita hidup di bumi yang sama, dibawah matahari yang sama, menghirup udara yang sama, apakah kita tidak bisa hidup saling berdampingan, saling menyayangi dan melindungi? Memang nafsu angkara manusia atas bisikan setan lah yang membuat tatanan di dunia ini menjadi rusak..!

Sudah 5 tahun saya tinggal di bumi Kalimantan yang kaya ini. Sudah cukup banyak tempat yang saya kunjungi, mulai Pelaihari, Batulicin, Kotabaru, kota-kota di Banua Enam, Buntok, Muara Teweh, Kapuas dan Palangkaraya. Senang rasanya dapat mengunjungi tempat-tempat tersebut, apalagi memang kesukaan saya sejak dulu adalah menjelajah daerah baru atau tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Dengan mengunjungi tempat-tempat baru tersebut saya bisa belajar tentang keunikan dan perilaku tempat dan masyarakat setempat. Misalnya, saya bisa mengatakan bahwa perilaku masyarakat Banjarmasin dan Bandung banyak terdapat kemiripan. Saya juga berani meyakini bahwa setting kebanyakan film-film India (Bolywood) adalah penuh kebohongan dan menutup-nutupi kenyataan sebenarnya. Yang bisa saya amati langsung dari kota Mumbai pada saat mendapat kesempatan mengunjunginya pada tahun 2006 yang lalu adalah suasana yang timpang, sangat kumuh, semrawut, jorok dan pengap. Sedang yang seringkali kita lihat di film-film tersebut adalah tempat yang indah, penuh wanita cantik dan pria tampan, orang-orang yang berkecukupan dan penuh riang gembira. Sungguh ironis.. Kemudian saya juga bisa membandingkan betapa sangat mudahnya kita menemukan masjid untuk singgah shalat apabila kita melakukan perjalanan di Kalimantan Selatan, dibandingkan apabila kita sedang melakukan perjalanan di Kalimantan Tengah.

Kembali ke Sampit, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk mengunjunginya. Berawal dari trip (mati)nya salah satu mesin Pxxxxx (edited) secara beruntun pada saat-saat gawat menjelang PILPRES 2009 membuat Gxxxxx (edited) seperti kebakaran jenggot. Pertemuan darurat segera digelar, dengan salah satu hasil keputusannya adalah Bagian Pembangkitan harus segera mengirim personelnya ke daerah-daerah yang dianggap rawan/krisis daya listrik. Segera dibentuk dua buah tim, dan saya kebagian tim yang bertugas ke Sampit, mendampingi salah satu Senior Engineer. Salah satu masalah yang ada di sana adalah besarnya derating (penurunan daya mampu) mesin pembangkit, diantaranya adalah disebabkan performansi oil cooler yang tidak optimal. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan menambahkan beberapa keping plate heat exchanger dari Unit lain yang tidak terpakai, dan salah satu tugas dari Tim adalah memastikan semuanya dilakukan dengan baik dan lancar. Alhamdulillah, walaupun awalnya ditemui beberapa kendala akhirnya (sampai dengan saat ini) semua berjalan sesuai yang diharapkan. Sungguh menyenangkan dapat berkenalan dengan teman-teman baru di sini, mereka adalah para pekerja keras dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Sebagian besar dari mereka adalah saudara-saudara saya yang hidup dan mencari penghidupan di tempat yang jauh dari tanah leluhurnya, namun mereka mampu membaur dengan baik dengan masyarakat setempat.

Terlepas dari semua itu, ternyata suasana kota Sampit sangat menyenangkan..! How a nice small city.. Kotanya ditata dengan cukup baik, terdapat beberapa ruang publik yang selalu semarak dikunjungi penduduknya untuk bersantai dan menghabiskan waktu di sore hari. Menurut saya kotanya maju, ditandai dengan adanya pelabuhan, bandara, banyaknya perbankan yang membuka cabangnya, banyaknya hotel dan terdapatnya satu surat kabar lokal yang terbit. Bahkan dulunya (sebelum sekarang pindah ke Palangkaraya) Bank Indonesia menaruh kantor perwakilannya untuk provinsi Kalimantan Tengah di Sampit, bukan di ibu kota provinsi! Namun menurut saya, banyaknya sarang walet yang dibangun di tengah kota mengurangi keindahan kota Sampit..

Lebih dari itu, sungguh beruntung saya mempunyai seorang sahabat dan rekan kerja, seorang gadis yang sangat cantik dan ramah, yang menjadi guide online yang hebat. Dia memang produk lokal kota Sampit (hehehe..) dan memang sudah sewajarnya harus mengenal kotanya dengan baik, namun penguasaannya akan detail sangat mengagumkan. Berbekal panduannya, kami dapat mencoba beberapa tempat makan yang memang enak. Namun, yang paling berkesan adalah saat makan di RM Jolodong bu Marwanto. Tempat makannya di pinggiran sungai Mentaya, sungguh romantis.. Es kelapanya sangat enak dengan porsi di luar ukuran normal 🙂 , dan paling istimewa adalah sayur lodehnya, sungguh benar-benar masakan rumahan..! Terasa saya sedang makan masakan ibu di rumah.. How a unforgettable lunch.. Terimakasih dik..

Tak terasa 3 malam waktu berjalan terasa begitu cepat, dan akhirnya kami harus meninggalkan kota Sampit, kota yang penuh kenangan. Capeknya perjalanan selama 8 jam yang harus ditempuh rasanya terlalu kecil dibandingkan kesan dan pengalaman yang didapatkan. Kapan lagi saya bisa menjengukmu lagi? Mudah-mudahan sampai nanti selalu aman dan damai, sehingga bayangan hitam peristiwa di masa silam dapat terkubur dalam-dalam..Berikut ini beberapa foto kenangan saat di kota Sampit:

pintu gerbang kota Sampit dari Pelabuhan
pintu gerbang kota Sampit dari Pelabuhan
Pemandangan saat matahari terbit di Pelabuhan Sampit
Pemandangan saat matahari terbit di Pelabuhan Sampit

Pelabuhan Sampit

Pelabuhan Sampit

Hotel tempat menginap, aman dan nyaman

Hotel tempat menginap, aman dan nyaman

mirasa

Tempat sarapan yang nyaman: nasi pecelnya sungguh enak..

PLTD Baamang, tulang punggung sistem kelistrikan Sampit

PLTD Baamang, tulang punggung sistem kelistrikan Sampit

Rumah makan Bu Murwanto:unforgettable lunch..!

Rumah makan Bu Murwanto:unforgettable lunch..!

Baru tau kalau ada cemilan yang namanya "Mata G0ajah". Menikmatinya di Taman Kota sungguh merupakan cara menikmati sore hari yang sangat menyenangkan..

Baru tau kalau ada cemilan yang namanya “Mata Gajah”. Menikmatinya di Taman Kota sungguh merupakan cara menikmati sore hari yang sangat menyenangkan..