sekeping hati dibawa berlari

Tiba-tiba saya teringat dengan nasyid “suci sekeping hati” dari Saujana., nasyid ini dulu sangat membekas di hati saat tahun 2002 pada saat masih kuliah dulu. Saat itu saya sedang menjalani saat-saat akhir perkuliahan, sedang mengerjakan tugas akhir yang tak kunjung selesai. Sengaja saya memencilkan diri mencari tempat kost yang jauh dari hiruk pikuk: sebuah ketenangan yang saya idam-idamkan..

Disamping saat-saat terpenting dalam fase perkuliahan, masa itu adalah masa pencarian saya akan jalan tuhan. Benar, saya dilahirkan sebagai seorang muslim dan dibesarkan dalam suasana keislaman yang cukup memadai. Namun, saya merasa hanya menjadi seorang muslim hanyalah karena warisan, walau sebagai seorang muslim boleh dikatakan saya cukup.

Bersama 2 orang sahabat terdekat saya, setiap hari minggu pagi biasanya kami joging di stadion UPI lalu dilanjutkan jalan kaki menyusuri tempat-tempat sekitar. Dari stadion UPI kami menyeberangi sebuah sungai yang dangkal menuju ke suatu bukit yang katanya akan menjadi tempat pembangunan masjid DT, lalu mengitari kompleks Pondok Hijau yang asri dan elit, dan terus berjalan jauh ke arah barat sampai memutar ke kawasan Geger Kalong Girang . Di kawasan itu setiap melewati jalan di depan DT pasti melihat begitu banyak orang di tempat itu, bahkan kebanyakan tamu-tamu tersebut berasal dari tempat jauh. Saya tidak heran dengan hal itu, toh saat itu popularitas Aa Gym sedang dalam puncaknya. Seringkali juga bersama teman terbaik saya itu kami sesekali main ke toko buku atau mini market atau shalat jumat di masjid DT. Namun rasanya biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa. Hanya kadang-kadang merasa kagum dengan DT yang mampu menjadi magnet bagi banyak masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke tempat itu.

Kemudian titik balik itu muncullah.. Serangkaian kegagalan dan kebuntuan dalam menyusun program simulasi dalam tugas akhir benar-benar membuat saya tertekan. Saya sudah hampir 6 tahun menempuh kuliah  namun koq belum selesai-selesai juga, sudah banyak teman-teman saya yang lulus dan bekerja dengan penghasilan yang memadai. Saya yakin saya bukan orang yang bodoh dan malas, buktinya IPK saya di atas 3. Seringkali saya menyesali bahwa telah salah memilih topik tugas akhir atau bahkan salah memilih jurusan! Kadang terpikir untuk beralih topik, namun saya juga menyadari hal itu justru akan membuat skripsi menjadi lebih lama lagi..  Saya benar-benar merasa tertekan..

Akhirnya untuk membuang segala beban, saya mencoba jalan-jalan ke DT untuk sekedar baca-baca buku di toko buku. Saat waktu shalat masuk dan adzan dikumandangkan semua aktivitas dihentikan dan kegiatan berpusat ke masjid. Saya bisa merasakan begitu sangat besar semangat persaudaraan dan kebersamaan. Sebagian besar dari mereka adalah kaum muda yang keliatan sangat menggebu-gebu gairah keagamaannya.

Saya termenung begitu bedanya saya dengan mereka, padahal banyak diantara mereka kelihatannya adalah kaum muda yang sukses dan sibuk dengan pekerjaannya. Namun itu tidak menghalangi mereka untuk selalu bersemangat menuju jalan tuhan-nya. Saya bukan apa-apa, namun kenapa begitu sombong dan acuh dengan tuhan-nya? Maha Suci Allah yang menggenggam segala jiwa dan membolak-balik hati.. Mulai saat itu perlahan-lahan saya lebih rajin ke DT untuk menunaikan shalat wajib berjamaah dan setiap malam jumat selalu hadir di barisan depan di forum pengajiannya. Makin lama saya semakin larut dengan keasyikan di DT. Ceramah-ceramah Aa Gym semakin merasuk ke dalam hati, isinya adalah hal-hal yang ‘ringan’ namun mengena. Untuk kalangan umum tidak ada bahasan materi yang berat-berat seperti halnya di pesantren lain. Saya kembali menyadari bahwa saya adalah seorang muslim.. Puasa sunat senin-kamis kembali saya jalankan seperti saat saya masih SMU dulu, shalat sunat dhuha kembali dijalani, tuner radio selalu disetel di MQFM, memori PC saya bersihkan dari konten-konten yang tidak perlu. Yang tertinggal di PC hanyalah dokumen-dokumen yang diperlukan dan koleksi mp3 nasyid.. Sungguh membekas di hati  lantunan “senandung dzikir” dari Alif dan beberapa nasyid lain.

Dengan pertolongan dan kuasa Allah SWT tugas akhir dapat terselesaikan dengan baik dengan 6 tahun masa perkuliahan. Begitu diwisuda beberapa saat kemudian saya langsung diterima di tempat saya yang sekarang (PLN), tempat yang memang saya idam-idamkan sebelumnya. Maha Suci Allah, betapa besar kuasa dan pertolongan-Nya serta kekuatan will power manusia. Satu tahun sebelumnya, untuk tugas individu dari mata kuliah pilihan dari Ir. Giri Suseno, MSME saya menulis dalam satu lembar kertas tentang arah cita-cita kita untuk beberapa tahun ke depan. Di situ saya tulis “saya ingin bekerja di suatu BUMN yang mapan”. Subhanallah.

Tak terasa begitu cepat waktu berlari.. Sudah lebih dari 6 tahun waktu berselang, sudah begitu banyak peristiwa dilalui dan dijalani. Saya merasa saat ini kembali ke masa sebelum tahun 2002 tersebut, saat-saat dimana saya mulai kembali acuh dan kurang semangat dalam menempuh jalan tuhan. Walau boleh dikata sebagai seorang muslim saya cukup taat, dalam arti tetap menjalankan syariat wajib, namun kesemua itu rasanya tidak membekas ke dalam hati.. Saya benar-benar menyadari hal ini dan belakangan merasa sungguh tidak nyaman..Memang jalan kehidupan penuh lika-liku, bagai ombak di lautan yang terkadang pasang dan surut. Sungguh saya teringat dengan petikan nasyid ini.. Sekeping hati dibawa berlari jauh melalui jalanan sepi. Jalan kebenaran indah terbentang di depan matamu para pejuang.. Tapi jalan kebenaran tak akan selamanya sunyi ada ujian yang datang melanda ada perangkap menunggu mangsa..”

Akankah diri ini dapat menemukan jalan tuhannya lagi dan tetap selalu istiqomah di dalamnya?? I just wanna back for good..

so many thanks to Saujana.. you’re inspiring me..

Suci Sekeping Hati (by Saujana)

Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Iklan

2 tanggapan untuk “sekeping hati dibawa berlari

  1. Saya alami hal yang sama dengan anda. Sungguh tidak nyaman.
    Oase yang dulu (DT) sedang dapat ujian. Sementara tidak ada oase lagi. Dimana? Kemana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s