Relativitas Uang

“kenapa akhir taun ga mudik sih? Khan libur panjang? Masak kamu bilang lagi ga ada uang..!”
”Aduh aku lagi ga ada duit nih, so ga bisa belikan barang itu untuk mereka..”
”Wah, maaf ya saya ga bisa ikut bantu soalnya lagi kekurangan uang juga nih..”
….
….
Seringkali saya menemukan kalimat-kalimat di atas terucap, entah oleh teman, keluarga, rekan kerja, kenalan, orang lain atau bahkan oleh saya sendiri yang intinya menyatakan bahwa kita tidak punya uang/sesuatu yang diinginkan sehingga kita tidak bisa memenuhi permintaan lawan bicara kita tersebut.

Apakah saya atau Anda yakin dengan perkataan-perkataan tersebut di atas? Mungkin ”YA”, mungkin ”TIDAK”, atau boleh jadi ”TIDAK SEPENUHNYA”.. Semakin banyak jawaban ”YA” saya katakan maka semakin banyak orang yang saya hormati. Semakin banyak jawaban ”TIDAK” saya katakan maka semakin banyak pula orang yang tidak bisa saya percayai. Semakin banyak jawaban ”TIDAK SEPENUHNYA” maka semakin banyak pula saya kehilangan respek terhadap orang.
Sayangnya saya belum pernah membuat perhitungan statistik yang menyatakan persentase ketiga jawaban di atas. Sangat mungkin perhitungan persentase hasil tersebut bagi setiap orang akan berbeda-beda. Cuman saya sedikit yakin bahwa persentase jawaban ”YA” bagi semua orang akan berada di urutan paling buncit.. 🙂
Dari sedikitnya jumlah jawaban ”YA” yang saya dapatkan maka saya dapat menyimpulkan bahwa berlaku relativitas dalam logika. Teori relativitas fisika dapat menjelaskan bahwa pembalap mobil formula satu yang melaju kencang di lintasan, misalnya Lewis Hamilton, belum tentu bisa dikatakan bergerak. Lewis Hamilton baru bisa dikatakan bergerak apabila dinyatakan TERHADAP sesuatu yang dianggap diam, misalnya penonton. Apabila Lewis Hamilton dinyatakan terhadap mobil McLaren yang sedang dikendarainya maka dia dikatakan sedang DIAM..! Pernah saya lihat ibu A yang rela berpanas-panas di atas sadel motornya saat menunggu pesanan nasi bungkusnya. Padahal dia bisa saja menunggu di dalam warung sambil duduk manis. Dia rela melakukan itu demi menghemat uang 500 rupiah buat parkir. Di lain hari saya pernah menemui bapak B yang di mata masyarakat umum dianggap mampu, atau bahkan bisa dikatakan makmur (dibuktikan dengan jumlah rumah, mobil, perhiasan yang dikenakan istrinya dan barang tersier lain yang dimilikinya) namun tidak mampu membantu saudaranya yang sedang membutuhkan.
Apabila ibu A ditanya kenapa tidak mau parkir dan bapak B kenapa ga bisa membantu saudaranya pasti mereka akan menjawab ”saya lagi ga uang nih/saya lagi perlu uang banyak nih”.

Nah itulah yang saya maksud dengan relativitas uang. Dia bisa berkata macam-macam tergantung keperluannya (tepatnya tergantung orang yang sedang memegangnya). Untuk keperluan A uang bisa berkata “ADA”, untuk B boleh jadi “TIDAK ADA”, untuk C boleh jadi “SEDIKIT”, untuk D boleh jadi “BESOK YA”, dan seterusnya dan seterusnya..

Anda setuju..???

catatan perjalanan mudik

Libur akhir tahun kemarin akhirnya mudik juga.. Padahal  sebelumnya sudah merencanakan untuk tidak mudik, mengingat waktu (ada hari kejepit) dan biaya..

Namun akhirnya nasib bicara lain 😀  Setelah di ‘ojok-ojoki’ my boss supaya mudik akhirnya mudik juga dengan mengambil jatah bolos (jatah cuti dah abis), hahaa..  Akhirnya 24 Des langsung hunting tiket, dan karena tiket bjm-ygy dah abis maka cari tiket bjm-sby PP.. Sengaja pilih maskapai MANDALA karena sekarang pelayanan n armadanya baru-baru..

26 Des pagi istri di ygy sms minta di bawain foto tanaman bunga di halaman rumah, katanya ngidam mau lihat bunga di halaman, ada-ada aj..hehehe.. Nih, sebagian tanaman bunga kami:

1

Setelah shalat jum’at langsung ke Bandara Samsudin Noor di Banjarbaru. Karena kelaparan akhirnya cari makan dulu di kantin bandara: pilih menu omelet plus nasi putih.. 🙂 Pukul 14.35 pesawat Airbus take off menuju Surabaya, dan Alhamdulillah 50 menit kemudian pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Juanda.

Setelah shalat ashar di mushala bandara langsung cari shuttle bus dari bandara menuju terminal bungurasih. Berikut ini sedikit keramaian bandara Juanda yang saya ambil dari atas shuttle bus..

dsc00045

Dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya memilih travel untuk mengangkut saya ke Yogyakarta. Atas usulan bapak sopir shuttle bus tadi akhirnya saya memilih travel PAHALA (mungkin pemilik travel masih ada hubungan dengan bapak sopir kali ya..hehe). Sesaat sebelum masuk mobil travel ELF L300:

3

Pukul 19.00 ELF L300 mengangkut 8 penumpang mulai meninggalkan kota Surabaya menuju Yogyakarta. Mobil yang saya tebus tiketnya seharga Rp. 115 rebu ini  lumayan nyaman, namun tidak demikian dengan sopirnya. Menurutku sang sopir terlalu pelan-pelan dalam menjalankan mobilnya sehingga perjalanan terasa lambat (atau jangan2 perasaanku aja ya, yg dah ngebet nyampe rumah..?? hehe).

Ditengah jalan mobil berhenti untuk istirahat dan makan, tepatnya di rumah makan UTAMA di Caruban:

4

Setelah melalui perjalanan yang membosankan akhirnya saat shubuh mobil memasuki kota Yogyakarta. Lega sekali rasanya.. Sambil menunggu hari terang akhirnya saya menuju ke sebuah warnet.. Lumayan, ga terasa lama waktu berlalu (maklum sambil sesekali tertidur.. 😀 )

Setelah janjian dengan adik saya yang masih kuliah di UNY untuk pulang sama-sama ke rumah di wonosari,  saya langsung menuju daerah malioboro, tepatnya di depan benteng Vredeburg.

5

Sekitar satu jam saya menunggu kedatangan adik saya.. Lumayan, sambil menikmati suasana kota yogya di pagi hari. Banyak banget wisatawan lokal n asing yang lalu-lalang. Maklum lagi liburan panjang khan? Setelah adik datang langsung saya ajak sarapan dulu, sengaja dia pilih tempat deket kost-annya, namanya warung soto Rembang. Saya kira pemiliknya atau menunya dari daerah Rembang. Eh, nyatanya Rembang tu singkatan dari saRem dan bramBang (garam dan bawang merah)..Dasar orang yogya emang kreatif, hehehe.. Selanjutnya cari oleh2 dl untuk myrio dan keluarga, yaitu kesukaan myrio donut di Dunkin Donut Gramedia.

Satu jam kemudian saya dah nyampe di rumah dan ketemu dengan seluruh keluarga, terutama myrio..

6

Rasanya terbayar sudah semua pengorbanan yang saya jalani selama menempuh perjalanan ini. Berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling membahagiakan bagi sebagian besar orang. Pengennya kita setiap saat selalu berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Namun, bukankah tidak semua keinginan kita selalu terpenuhi bukan? Mungkin karenan berbagai alasan atau kondisi maka banyak ayah yang terpisah dengan keluarganya, entah untuk demi penghidupan yang lebih baik atau entah ada alasan lain. Namun percayalah, tidak ada ayah yang tidak mencintai keluarganya, terutama anak-anaknya. Demi penghidupan/masa depan anak-anaknya yang lebih baik mereka akan rela mengorbankan kesenangannya, misalnya harus selalu berkumpul dengan keluarganya.. 🙂

Selama 8 hari di rumah banyak sekali yang telah saya lakukan, terutama adalah ziarah ke makam almarhum bapak di Ponjong. Kenangan akan bapak akan selalu hidup, tidak akan mungkin pernah terlupakan. Mudah-mudahan arwah bapak tenang di alam barzah sana, amien.

Kemudian entah kebetulan yang aneh atau apa, terjadi gempa bumi yang cukup keras namun tidak lama pada siang hari akhir desember yang lalu. Kejadiannya sama dengan kejadian 2006 yang lalu, yaitu sama-sama pas saya mudik dan kehamilan 7 bulan istri saya. Wallahu ‘alam..

Yach, sebagian besar waktu saya habiskan di rumah saja, ga pergi wisata kemana-mana. Rasanya lebih dari menyenangkan setiap hari di rumah bermain dengan myrio.  Saat ini umurnya 2 tahun 5 bulan, lagi aktif-aktifnya. Kesukaannya ngajak main komputer, main menyusun kotak-kotak susu, main dengan truk kesayangannya n kalau sore pergi ke mesjid bersama mbah kakung n om-nya. Walau artikulasinya belum sepenuhnya jelas namun dia sudah hafal surat al-fatihah, doa mau makan, doa mau bobo, doa mau ke kamar mandi n nyanyi  ‘lihat kebunku’ .. 🙂

Kemudian pada 04 januari sore kami menjemput budhe yang pulang dari menunaikan ibadah haji di pendopo kabupaten Gunungkidul. Rame kali suasana penjemputan, maklumlah ga cuman keluarga terdekat namun tetangga-tetangga juga ikut menjemput.

7

Setelah serangkaian seremoni oleh muspida kabupaten Gunungkidul akhirnya jamaah haji dipersilahkan pulang ke rumah masing-masing bersama rombongan penjemputnya.

Akhirnya, betatapapun menyenangkannya pasti semua di dunia ini ada akhirnya.. 🙂 Setelah acara di tempat budhe selesai, abis isya dengan ditemani adik saya diantarkan ke terminal giwangan yogya untuk ke surabaya dengan menumpang bus umum. Atas rekomendasi mbak asih (saudara istri) saya akhirnya memilih bus EKA. Bus-nya sangat nyaman, cepat dan malah dapat makan nasi lagi. Rasanya dengan harga tiket hanya Rp. 66 rebu rupiah malah lebih baik/nyaman dibanding naik travel yang harganya Rp. 115 rebu..  Dari yogya jam 9 malam nyampe terminal bungurasih jam 03.30, cepat bukan..?

Karena pesawat yang saya tumpangi terbangnya jam 15.15  maka selama waktu menunggu yang cukup lama ini saya manfaatkan dengan puter-puter keliling kota surabaya dengan menumpang bus kota. Berbekal informasi dari temen kerja yang asli surabaya saya mencoba untuk menjelajah pusat perdagangan hp dan komputer di surabaya. Salahsatunya adalah WTC Surabaya yang merupakan sentra perdagangan ponsel.

8

Menurutku tempatnya masih kalah di banding BEC Bandung, apalagi Roxy Jakarta. Namun lumayanlah dipake untuk jalan-jalan, hehehe

Akhirnya setelah cape jalan-jalannya saya langsung menuju bandara Juanda dengan menumpang shuttle bus bandara dari terminal Bungurasih. Di bandara tidak menunggu terlalu lama karena emang sengaja diatur begitu, hehe.. namun sempat dapat kenalan orang Malaysia (melayu), bahkan sempat diberi kenang-kenangan .. 🙂 Akhirnya sesuai jadwal pesawat take off dengan lancar dan 50 menit kemudian landing dengan mulus di bandara Syamsudin Noor Banjarbaru.. Nyampe di rumah lagi dech…

HOW A WONDERFUL VACATION…